Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan

Juni 04, 2021

things I wish people told me about grief

If there's one thing about adulthood that I didn't expect to be so hard.. it's losing my Dad.

I lost him almost two years ago, just a few weeks after I got back from Leeds. Turns out he had been sick and we discovered it late. Everything went so fast and to this day I still couldn't process everything that happened. I was so heartbroken, I still am.

When I said heartbroken, I really mean it. Setelah setahun nggak ketemu, aku cuma bisa nangis melihat Papa terbaring lemas di tempat tidur. Siapa yang bisa nyangka kalau setelah pulang ke Indonesia, aku cuma punya waktu beberapa minggu bersama Papa. Bahkan jauh lebih sedikit dari itu. Beberapa hari saat Papa dirawat di ICU adalah hari-hari terberat. Papa hanya bisa dikunjungi satu kali dalam sehari, nggak lebih dari 30 menit. Seeing him being so helpless, so fragile, was so devastating. Nothing could prepare me for that.

Kalau aja bisa mengulang waktu.. mungkin aku nggak akan berangkat ke Leeds dan menghabiskan tahun terakhir Papa bareng-bareng. Keputusan aku buru-buru ambil S2 setahun sebelumnya, didukung sepenuhnya sama Papa. Bahkan saat aku ragu berangkat kuliah dengan biaya pribadi, Papa yang meyakinkan kalau aku pantas lanjut sekolah lagi. Padahal Papa bukan termasuk orang yang paham banget soal kuliah. Yang Beliau tau cuma anak-anaknya itu pintar dan harus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya selama masih mampu.

Belum sempat benar-benar memproses apa yang terjadi, Papa sudah dipanggil Allah di tanggal 21 September 2019. Again, everything went so fast and nobody prepared me for that. Bahkan saat nemenin Beliau di masa-masa kritisnya, I really didn't think I'd lose him that day. I really thought we had a chance, a miracle.

Aku bahkan masih ingat ucapan dokter yang bilang kalau keadaan Papa mulai membaik dan kemungkinan bisa dirawat di rumah. Saat itu aku tau hidup aku bakal berubah, tapi bukan seperti ini. Bukan berubah karena kehilangan Papa.



People said there are five stages of grief. The denial, the anger, the bargaining, the depression, and the acceptance. Aku berusaha menerka-nerka, aku sedang berada di fase yang mana. Kadang aku merasa aku sudah bisa menerima, tapi kadang aku juga masih marah dengan keadaan. Gimana kalau fase-fase itu nggak punya batasan satu sama lain? Dan siapa yang tahu kapan kita bisa move on ke fase berikutnya?

Karena walaupun aku udah berusaha merelakan kepergian Papa dan berusaha melanjutkan hidup tanpa kehadiran Beliau, to this day, I'm still grieving. I'm still sad whenever someone mentions his name. I'm still upset to think that I didn't have more time to spend with him. I'm still angry with the fact that he wasn't there for my wedding. 

At his funeral, people told me to be strong for the sake of my Mom. People expected me to sort out all family matters by myself. Selama seminggu aku nggak punya waktu sendiri. Banyak orang yang datang ke rumah nemenin aku dan Mama, berusaha menguatkan kami. Aku nggak bisa nangis sendiri di kamar, karena semua orang rasanya ingin nemenin aku supaya nggak sedih.

But why? Why can't I be sad and weak? Kenapa aku nggak boleh nangis sekencang-kencangnya, atau nangis berhar-hari sendirian di kamar? Kenapa aku dituntut kuat ketika baru saja kehilangan orang yang paling aku sayangi?

I tried to be strong for my Mom. Well, I still am. The only time my Mom saw me crying was at his funeral. Selebihnya aku berusaha tegar, mengalihkan pikiran dengan ngurusin segala adminstrasi kematian Papa. Karena itu yang orang-orang bilang, kan?

But the fact is, I'm not strong at all. All those feelings I have repressed keep hurting me. Luka yang ditinggalkan jadi makin besar karena aku nggak meluangkan waktu untuk benar-benar berduka, untuk merelakan kepergian Papa.

Aku nggak bilang aku paling paham soal berduka. Mungkin dibandingkan orang-orang lain yang sudah ditinggal lama oleh orang-orang terkasih, hidupku sekarang hanya sebuah fase berduka paling awal. But one thing I wish people told me about grief is, people grieve differently and we might never recover from one.

Melanjutkan hidup tanpa Papa adalah hal yang sangat berat dan nggak selalu baik-baik aja. Kadang aku bisa ketawa menceritakan ulang kelakukan Papa yang lucu, kadang aku juga bisa nangis tersedu-sedu karena rasa rindu yang luar biasa. My life will never return to 'normal'. But that's okay, I can cry and grief over and over again, anytime I need.

I believe that grieving is a long and complicated process. And I have to acknowledge every feeling I have. Nggak perlu berusaha kuat setiap saat, karena hilangnya seseorang memang nggak perlu selalu diganti maupun dilupakan. 

Today would've been his 61st birthday. Perhaps in another universe, we were living a perfectly 'normal' life, just like the old days. Selamat ulang tahun, Papa. Sampai kita ketemu lagi, ya.




April 22, 2019

A year after graduation

It's been a year after I graduated from uni and it's almost been a year since I posted something on my blog. Adakah yang bertanya-tanya aku kemana? Anggep aja ada ya, hehe. My life this past year has been very hectic, chaotic, messy, overwhelming, but in a very, very good way.

To summarise everything: I moved to Leeds to pursue my master degree.

The iconic building at Uni of Leeds: Parkinson Building!

Juni 28, 2018

Turning 22: I choose to be happy!

I turned 22 two days ago and to be honest I really don't know what to feel.

I always thought when I turn 22, it would be a meaningful celebration as I have predicted that at this age I would graduate from uni (which I did! read my story here). I always thought that being 22 would be memorable as I would take more big steps in my life. Taylor Swift even made a song to celebrate how she felt about being 22 (or maybe not. I never really read the lyrics).

Juni 01, 2018

Goodbye College!

Halo semuanya! Setelah sekian lama menghilang dari blog, akhirnya Rizka muncul lagi. Sejak akhir tahun lalu sampe pertengahan tahun ini, aku cukup dibuat sibuk sama banyak hal dan nulis blog bukan jadi prioritas walaupun sebenarnya udah berkali-kali pengen nulis lagi. Akhirnya ada kesempatan dan kemauan untuk balik, so here I am! Untuk memulai kembali blog ini, mungkin aku cerita dikit dulu ya apa aja yang terjadi selama beberapa bulan kebelakang ini...

Sejak bulan September 2017 aku udah mulai dipusingin dengan salah satu momok terbesar bagi mahasiswa S1 yaitu skripsi. Hehe. Masa-masa penyusunan skripsi tuh rasanya beraaat banget! Dari awal yang sok-sok nyantai (karena aku underestimate beberapa hal), lalu ngerasa panik dan pusing karena ternyata ngga berjalan mulus sesuai rencana awal. Aku sempet ganti metode sampe ganti objek penelitian yang udah aku rencanain bahkan dari semester 5. Dari awal bikin skripsi, semuanya modal nekat termasuk nekat milih metode penelitian yang ternyata susah karena relatif baru digunakan dan masih sedikit banget referensinya. Aku sampe bolak balik Jakarta-Bandung beberapa kali buat cari skripsi dan bahan referensi di univ lain, belum lagi ngejar-ngejar dosen yang bisa sedikit bantu aku nyelesain skripsi ini.

Agustus 21, 2017

Kue Ape 2 Dekade: Penyemangat di Awal Semester 7

Hari ini gue resmi memulai perkuliahan semester 7, dimana menurut gue adalah semester penentuan. Why? Karena di semester ini gue menghabiskan seluruh mata kuliah yang tersisa, terus gue juga ngambil proposal dan skripsi sekaligus. Semester ini juga yang bakal nentuin apakah gue bakal menyandang gelar S. Ikom tahun ini atau enggak. Dan yang sebenernya lebih bikin pusing, di semester ini gue udah mulai harus serius mikir, what's next?

Di tengah keriweuhan otak gue mikir ini itu, gue keinget video dokumenter yang gue buat semester lalu. Kue Ape 2 Dekade. Video ini akhirnya gue upload juga di youtube setelah sekian lama cuma nangkring di harddisk. Gue bukan tipe mahasiswa yang seneng sharing tugas gue ke youtube, but this one is special. Gue ngerasa sangat-sangat terinspirasi dari dokumenter ini, and I want to share it with you all.



Kue Ape 2 Dekade nyeritain tentang Pak Wahid, seorang penjual kue ape yang sering berjualan di sekitar kampus gue. Beliau ini usianya sudah 72 di tahun 2017 ini, sudah bukan usia produktif lagi, tapi beliau masih jualan kue ape demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan menyekolahkan anaknya. Keterlibatan gue sebagai produser dimulai dari PDKT sama beliau dulu, karena beliau awalnya cukup tertutup dan nggak mau cerita banyak. Tapi dibantu dengan temen-temen kelompok gue, akhirnya beliau mau berbagi cerita hidupnya ke kita. Gue ngikutin beliau jualan dari kampus, ke gang-gang tempat dia biasa lewat setiap hari, sampe pulang ke rumahnya. Hari itu, gue belajar banyak dari beliau. Perjalanan kurang lebih 8km selama lebih dari 3 jam itu akhirnya dibuat dalam dokumenter berdurasi 4 menit ini. Mungkin masih banyak kekurangan dari segi kualitas video, but I really hope you get the message. Harapan gue sebenernya cuma satu, semoga kalian juga merasa terinspirasi dari kisah hidup beliau.

Selamat menonton.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.