Agustus 31, 2022

Makan apa di Old Shanghai Sedayu City?

Nyadar nggak sih, kalau beberapa waktu belakangan ini makin banyak tempat nongkrong di Jakarta yang mengusung konsep unik? Nggak sebatas coffee shop atau restoran, tempat-tempat ini menyajikan konsep di mana kamu bisa kulineran, hangout, sambil foto-foto bareng teman dan keluarga. Salah satunya adalah Old Shanghai yang berlokasi di Sedayu City.


Pagoda utama di Old Shanghai

Juni 04, 2021

things I wish people told me about grief

If there's one thing about adulthood that I didn't expect to be so hard.. it's losing my Dad.

I lost him almost two years ago, just a few weeks after I got back from Leeds. Turns out he had been sick and we discovered it late. Everything went so fast and to this day I still couldn't process everything that happened. I was so heartbroken, I still am.

When I said heartbroken, I really mean it. Setelah setahun nggak ketemu, aku cuma bisa nangis melihat Papa terbaring lemas di tempat tidur. Siapa yang bisa nyangka kalau setelah pulang ke Indonesia, aku cuma punya waktu beberapa minggu bersama Papa. Bahkan jauh lebih sedikit dari itu. Beberapa hari saat Papa dirawat di ICU adalah hari-hari terberat. Papa hanya bisa dikunjungi satu kali dalam sehari, nggak lebih dari 30 menit. Seeing him being so helpless, so fragile, was so devastating. Nothing could prepare me for that.

Kalau aja bisa mengulang waktu.. mungkin aku nggak akan berangkat ke Leeds dan menghabiskan tahun terakhir Papa bareng-bareng. Keputusan aku buru-buru ambil S2 setahun sebelumnya, didukung sepenuhnya sama Papa. Bahkan saat aku ragu berangkat kuliah dengan biaya pribadi, Papa yang meyakinkan kalau aku pantas lanjut sekolah lagi. Padahal Papa bukan termasuk orang yang paham banget soal kuliah. Yang Beliau tau cuma anak-anaknya itu pintar dan harus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya selama masih mampu.

Belum sempat benar-benar memproses apa yang terjadi, Papa sudah dipanggil Allah di tanggal 21 September 2019. Again, everything went so fast and nobody prepared me for that. Bahkan saat nemenin Beliau di masa-masa kritisnya, I really didn't think I'd lose him that day. I really thought we had a chance, a miracle.

Aku bahkan masih ingat ucapan dokter yang bilang kalau keadaan Papa mulai membaik dan kemungkinan bisa dirawat di rumah. Saat itu aku tau hidup aku bakal berubah, tapi bukan seperti ini. Bukan berubah karena kehilangan Papa.



People said there are five stages of grief. The denial, the anger, the bargaining, the depression, and the acceptance. Aku berusaha menerka-nerka, aku sedang berada di fase yang mana. Kadang aku merasa aku sudah bisa menerima, tapi kadang aku juga masih marah dengan keadaan. Gimana kalau fase-fase itu nggak punya batasan satu sama lain? Dan siapa yang tahu kapan kita bisa move on ke fase berikutnya?

Karena walaupun aku udah berusaha merelakan kepergian Papa dan berusaha melanjutkan hidup tanpa kehadiran Beliau, to this day, I'm still grieving. I'm still sad whenever someone mentions his name. I'm still upset to think that I didn't have more time to spend with him. I'm still angry with the fact that he wasn't there for my wedding. 

At his funeral, people told me to be strong for the sake of my Mom. People expected me to sort out all family matters by myself. Selama seminggu aku nggak punya waktu sendiri. Banyak orang yang datang ke rumah nemenin aku dan Mama, berusaha menguatkan kami. Aku nggak bisa nangis sendiri di kamar, karena semua orang rasanya ingin nemenin aku supaya nggak sedih.

But why? Why can't I be sad and weak? Kenapa aku nggak boleh nangis sekencang-kencangnya, atau nangis berhar-hari sendirian di kamar? Kenapa aku dituntut kuat ketika baru saja kehilangan orang yang paling aku sayangi?

I tried to be strong for my Mom. Well, I still am. The only time my Mom saw me crying was at his funeral. Selebihnya aku berusaha tegar, mengalihkan pikiran dengan ngurusin segala adminstrasi kematian Papa. Karena itu yang orang-orang bilang, kan?

But the fact is, I'm not strong at all. All those feelings I have repressed keep hurting me. Luka yang ditinggalkan jadi makin besar karena aku nggak meluangkan waktu untuk benar-benar berduka, untuk merelakan kepergian Papa.

Aku nggak bilang aku paling paham soal berduka. Mungkin dibandingkan orang-orang lain yang sudah ditinggal lama oleh orang-orang terkasih, hidupku sekarang hanya sebuah fase berduka paling awal. But one thing I wish people told me about grief is, people grieve differently and we might never recover from one.

Melanjutkan hidup tanpa Papa adalah hal yang sangat berat dan nggak selalu baik-baik aja. Kadang aku bisa ketawa menceritakan ulang kelakukan Papa yang lucu, kadang aku juga bisa nangis tersedu-sedu karena rasa rindu yang luar biasa. My life will never return to 'normal'. But that's okay, I can cry and grief over and over again, anytime I need.

I believe that grieving is a long and complicated process. And I have to acknowledge every feeling I have. Nggak perlu berusaha kuat setiap saat, karena hilangnya seseorang memang nggak perlu selalu diganti maupun dilupakan. 

Today would've been his 61st birthday. Perhaps in another universe, we were living a perfectly 'normal' life, just like the old days. Selamat ulang tahun, Papa. Sampai kita ketemu lagi, ya.




Juni 03, 2021

Peripera Ink Airy Velvet Tint Shade 03 Cartoon Coral Review

Masih ingat sama review aku soal lip tint dari Peripera? Beberapa tahun lalu aku sharing soal lip tint favorit aku yang udah aku pake sejak tahun 2017 yaitu Ink The Velvet! Nah, setelah sekian lama akhirnya aku nyoba lip tint Peripera lainnya yaitu Ink Airy Velvet Tint shade #03 Cartoon Coral. 


Peripera Ink Airy Velvet Tint Shade 03 Cartoon Coral Review


✨Packaging

Masih mempertahankan desain uniknya Peripera, packagingnya Ink Airy Velvet Tint juga mirip dengan Ink The Velvet yaitu botol kecil dengan handle ala pipet. Ukurannya juga mini dan gemas, walaupun terlihat lebih modern karena lapisan luarnya doff dan desainnya lebih simpel. 

By the way, setelah sekian lama aku nggak ngikutin makeup korea, aku baru tau kalau Peripera udah punya toko resmi di Indonesia. Karena udah resmi, tentunya packaging mereka juga udah ada penjelasan bahasa Indonesia di bagian box luar. 


Peripera Ink Airy Velvet Tint Shade 03 Cartoon Coral Review


✨Product

Kesan pertama aku soal produk ini: ringan banget! Persis seperti namanya 'airy'. Awal diaplikasikan lumayan creamy, tapi setelah diblend justru teksturnya jadi kayak powdery gitu. Jujur produk ini unik banget, karena beda dengan Ink The Velvet yang aku coba beberapa tahun lalu. 

Shade yang aku pilih itu Cartoon Coral, semacam kombinasi warna peach dan sedikit warna pink muda. Untuk warnanya, aku memang nggak berekspektasi tinggi karena yang namanya lip tint kadang hit and miss. Awal dipakai memang warnanya kayak kurang masuk di wajah aku, kelihatannya terlalu oranye kayak lagi pakai filter kamera snow gitu. 

Tapi ternyata setelah didiamkan beberapa saat dan diblend lagi, produknya kayak 'hilang' dan tinggal warnanya aja yang nempel di bibir. Ini aku kaget banget sih, karena setelah aku usap-usap bibir kayak nggak ada sisa lip tintnya sama sekali! Cuma meninggalkan tint warna yang terlihat lebih natural dan lebih masuk di wajah aku. Kelihatan kayak my lips but better aja gitu. Suka banget deh!

Untuk coveragenya menurut aku lumayan sheer ya. Bisa dibuat lebih full, tapi harus tunggu set dulu lalu di-apply ulang untuk lebih nutup warna bibir. Di foto di bawah ini, aku apply dua kali supaya dapet warnanya lebih keluar walaupun memang nggak terlihat full coverage banget.


Penggunaan Peripera Ink Airy Velvet Tint Shade 03 Cartoon Coral
Makeup look dengan Ink Airy Velvet Tint shade Cartoon Coral


✨Result

Well, kalau soal longetivity aku masih agak bingung sama produk ini. Karena memang produknya gampang 'hilang' dan cuma ninggalin tint di bibir. Nah, kayaknya kita emang nggak bisa mengharap banyak sama lip tint karena memang nggak bisa tahan lama layaknya lipstick atau lip cream pada umumnya ya. 

Tapi menurut aku yang bibirnya gelap, lip tint ini bisa ngasih warna dasar di bibir yang bikin lipstick lain warnanya lebih keluar dan cantik serta lebih tahan lama, apalagi kalau warnanya senada. Jadi biasanya aku memang selalu layer lagi dengan produk lain supaya makin cantik. 

Lip tint ini nggak bikin bibir aku kering, tapi nggak bisa dipakai kalau bibirnya kering. Soalnya akan mempertegas garis-garis bibir dan kalau bibirnya kering malah makin keliatan flaky gitu. So aku sarankan selalu rajin scrub bibir dan pakai lip balm supaya hasilnya bagus.


Peripera Ink Airy Velvet Tint Shade 03 Cartoon Coral Review

✨Price

Harga reguler Ink Airy Velvet Tint di official store Peripera di berbagai e-commerce dibanderol sekitar Rp 130.000. Tapi aku sering lihat official store mereka ngadain diskon yang lumayan oke kalau kamu mau lebih hemat lagi. Menurut aku harga segini masih masuk akal untuk produk Korea resmi yang memang kualitasnya oke.

Repurchase? Aku masih pengen cobain varian produk Peripera lainnya yang ternyata banyak banget! Kamu punya rekomendasi produk apa yang harus aku coba? Let me know in the comment box below yah!

Mei 26, 2021

Neutrogena Hydro Boost Water Gel Review

Kalau ada produk skincare yang cukup berat di kantong tapi tetap kubeli sampai sudah habis 3 botol, jawabannya adalah Neutrogena Hydro Boost Water Gel. Yep, pelembab dari Neutrogena yang satu ini bener-bener works like magic di kulit aku yang makin ke sini makin nggak jelas maunya apa😂

Awal mula aku bisa ketemu Neutrogena Hydro Boost jauh sebelum produknya masuk ke Indonesia. Waktu aku masih tinggal di Leeds, aku nyoba produk ini karena lagi diskon lumayan gede, jadi £6.5 dari harga aslinya £13. Lumayan fantastis ya bun harganya untuk anak kuliahan😅Tapi pada dasarnya ada harga ya ada kualitas, produk ini nggak mengecewakan banget! Yuk, kita intip reviewnya!



Packaging

Neutrogena Hydro Boost Water Gel dibekali dengan packaging tipe jar yang cukup sturdy dengan warna ciri khas rangkaian Hydro Boost yaitu biru semi transparan. Desainnya simpel dan nggak berisik, dengan nama produk di bagian depan dan deskripsi singkat di bagian belakang. Setiap botol dikemas dengan box tambahan yang terdapat informasi produk lebih lengkap.

Walaupun ukurannya cukup compact, menurutku masih kurang travel-friendly karena tutupnya harus dibuka semua untuk ngambil produknya. Aku sih pengennya mereka ngeluarin versi mini yang pakai tube gitu ya buat traveling, jadi lebih praktis dan higienis.




Product

Ada perbedaan utama rangkaian produk Neutrogena Hydro Boost di Indonesia dan di UK. Salah satunya adalah jenis varian. Kalau di UK, Hydro Boost moisturizer ada dua jenis yaitu Water Gel dan Gel Cream. Yang aku coba pertama kali adalah yang Gel Cream karena Gel Cream nggak mengandung fragrance dan lebih cocok untuk kulit super kering (saat itu kulit aku super kering karena musim dingin).

Nah, kalau di Indonesia yang dijual adalah Water Gel dan 3D Sleeping Mask, dan yang aku pakai sampai sekarang adalah yang Water Gel.


Baca juga: Neutrogena Visibly Clear Pink Grapefruit Facial Wash & Moisturiser Review



Produk ini mengklaim bisa meningkatkan level hidrasi kulit serta meningkatkan kemampuan kulit wajah untuk tetap terhidrasi hingga 72 jam. Di botolnya tertulis kalau produk ini non-comedogenic dan oil-free sehingga cocok untuk kulit berminyak.

Seperti namanya, Neutrogena Hydro Boost Water Gel memang punya tekstur yang unik. Warnanya semi transparan seperti gel, tapi nggak terlalu kental juga. Cepat meresap di kulit dan nggak bikin lengket. Mengandung fragrance yang aku susah jelasinnya, kayak bau dingin segar manis gitu deh. Bagi yang sensitif dengan skincare berbau, mungkin kurang suka karena wanginya memang cukup kerasa dan lingering cukup lama.


Tekstur Neutrogena Hydro Boost Water Gel


Result

Yang membuat aku jatuh cinta pertama kali dengan versi Gel Cream yang aku beli di UK adalah pelembab ini super lembut dan gentle. Waktu itu wajah aku sempet kering sampai bersisik karena sehabis winter salah pakai produk, mau pakai pelembab apa pun hasilnya tetep kering dan justru bikin perih. Tapi produk ini bisa bikin kulit aku membaik dan sedikit ada sensasi calmingnya juga.

Terus ada perbedaan nggak dengan Water Gel versi Indonesia?

Dari hasil googling singkat, ada sedikit perbedaan kandungan dari Gel Cream versi UK dan Water Gel versi Indonesia. Kandungan yang ada di produk Indonesia tapi nggak ada di produk UK: Yeast Extract, Trehalose, dan Fragrance. Sedangkan yang ada di produk UK tapi nggak ada di Indonesia: Synthetic Beeswax. 


Versi UK maupun versi Indonesia menurutku memberikan hasil dan efek yang kurang lebih sama. Lembab tanpa minyak berlebih, cepat meresap, nggak bikin breakout, dan ada sensasi calming. Keduanya juga cukup gentle dan teksturnya mirip, tapi seingetku yang versi UK memang sedikit lebih kental dan memang ditujukan untuk kulit yang super kering dan sensitif.

Sekarang aku udah pemakaian botol ke empat (atau ke lima?). Yes, aku sesuka itu karena setelah pulang ke Indonesia aku belum nemu pelembab yang cocok untuk kulitku yang dehidrasi, tapi cukup berminyak di T area. Beberapa produk memang nggak bikin berminyak, tapi malah timbul jerawat. Sedangkan produk lain aman-aman aja, tapi wajahku jadi berlebihan minyak. Sejauh ini Nuetrogena Hydro Boost Water Gel paling aman untuk wajah aku.




Price

Di awal post ini aku udah bilang kan, kalau produk ini memang nggak terlalu ramah di kantong? Harga normal di official storenya sekitar Rp 230.000, tapi di Shopee atau e-commerce lainnya sering ada diskon, bahkan kemarin aku sempet beli cuma Rp 100.000 aja pas flash sale hihihi. Jadi kalau kalian mau beli juga, coba pantengin official store mereka pas lagi diskon ya! 

Selama ini pengalaman aku satu botol bisa sampai 2-3 bulan tergantung pemakaian, jadi masih cukup oke lah untuk result yang aku dapetin. Aku akan masih terus repurchase pelembab ini karena sebenernya males nyoba-nyoba produk lain😅

Gimana menurut kalian? Tertarik buat mencoba rangkaian Neutrogena Hydro Boost? Coba komen dibawah yuk!

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.